Minggu, 01 Februari 2015

Filosofi Hujan



1361289087781476639
illustrasi dari OMGshots(dot)com


Seperti hujan yang jatuh di atas telaga teduh
Ia dengan tenang membentuk mahkotanya kemudian menjadikan dirinya sebuah lingkaran
Menyergap satu titik yang dicumbunya

Seperti hujan yang jatuh di atas jalanan beraspal
Ia dengan percaya diri masih membentuk mahkotanya
Lagi-lagi menyergap satu titik yang rapuh
Kemudian menggenang
Terinjak bahkan tergilas




Andai kau jadi hujan
Manakah kau pilih; jatuh di atas telaga atau di atas jalanan itu?
Bisakah kau jatuh seturut kehendakmu?
“Ah, aku ingin jatuh di atas rerumputan itu…”
Hujan lainnya berkata, “Ah, aku ingin jatuh di hutan itu, di atas pepohonannya, di atas semak-semak, bunga-bunga indah itu, atau di atas sungai-sungai, bahkan di atas laut…”

Serupa kelahiran manusia, yang tak dapat memilih lahir di mana, menjadi suku dan bangsa apa, berkulit gelap atau cokelat atau terang atau putih atau kuning langsat
Manusia tidak bisa memilih siapa ibu dan ayahnya; dari keluarga miskin atau kaya
Namun percayalah. Tuhan tidak menciptakan manusia secara random
IA tidak mengenal teori peluang-percobaan di dalam proses penciptaanNya
IA telah memiliki rencana yang detail atas keunikan pada setiap manusia yang diciptakanNya
IA bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu mengenai ciptaanNya

Hujan dengan pilar-pilarnya yang tinggi, dan terkadang kokoh
Di manakah letak ujungnya?
Dari awan mana ia berasal?
Dari ketinggian manakah ia jatuh?

Serupa manusia yang diberi kehidupan
Ia tak akan pernah mengerti saat kapan ia diciptakan dan saat kapan ia akan kembali –hanya dengan sebuah ilmu, ia akan mengetahuinya; mencoba mencari sedikit celah rahasia yang dimilikiNya-
Saat semua manusia menerima kehidupannya, manusia tiada beda
Sebab manusia itu satu –kemanusiaan itu satu-
Sesungguhnya hanya alam yang sanggup membedakannya
Namun manusia banyak yang mendewakan kemegahan, kecantikan lahiriah, dan kekayaan yang berlimpah
Jika kebalikannya, maka ia tidak akan dipandang dengan sebelah mata pun
Di sini, dunia telah berperan mengenai keadilan menurut versinya

Hujan tak pernah takut jatuh ke bumi; ke tempat mana pun ia diutus untuk jatuh, mengalir, dan memberikan kehidupan
Ia rela menjatuhkan dirinya untuk membersihkan bumi dan semesta raya
Mekipun ia jatuh dari langit, namun ia tiada melupakan dari mana ia berasal
Hujan senantiasa menginginkan keadilan, sebab ia memohonkan kepada awan untuk bergerak menuju ke tempat-tempat yang akan dilaluinya

Serupa manusia yang tak pernah takut akan kegagalan
Ia akan senantiasa berjalan pada jalurnya
Untuk terus menikmati hidup yang menghidupinya
Untuk tetap menghirup udara yang telah menafasinya
Jika hujan saja ingin menjadi berkat bagi segenap makhluk, apalagi manusia?
Maka, sangatlah wajar dan sungguh wajar, jika manusia saling memberkati dengan segenap kemampuannya untuk saling membahagiakan sesamanya, sesama makhluk ciptaanNya, juga membahagiakan Tuhannya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar